Kamis, 20 Juni 2013

Lebih Indah (Cerpen Chelgas)






Bagas mengusap batu nisan bertuliskan Cindai Gloria. Diletakkannya satu buket mawar pink di dekat batu nisan itu. Sesaat Bagas memejamkan matanya untuk berdoa.
“Cindai…gimana kabar kamu?” Bagas menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, ”Maaf ya, aku baru sempat ke sini, soalnya belakangan ini aku lagi banyak banget tugas dan ulangan.”
Mata Bagas mulai berkaca-kaca dan nggak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya, “Seandainya waktu itu aku lebih cepat menyelamatkan kamu, mungkin kamu nggak akan pergi secepat ini. Dan seandainya waktu bisa diputar kembali, waktu itu aku nggak akan ngebiarin kami pulang sendirian. Semuanya memang salah aku!” Bagas menunduk dan air matanya mulai menetes.
Lama Bagas dalam posisi seperti itu. Mengingat kenangan manisnya dulu bersama Cindai. Gadis yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Dan gadis yang sampai saat ini masih mengisi hatinya.
Bagas kembali mengangkat wajahnya, “Aku pulang dulu ya. Aku akan sering-sering ke sini. Aku…selalu sayang kamu.”


{{{

“WOI!” seseorang menepuk pundak Bagas dari belakang.
Bagas terlonjak kaget dan menoleh, “Ngagetin aja lo, Dif!” sahut Bagas kesal.
Difa-teman sebangku sekaligus sahabat Bagas, cuma nyengir kuda, “Salah siapa lo ngelamun mulu?”
Bagas nggak berkomentar dan melanjutkan langkahnya menuju kelas.
“Eh, tungguin gue, Gas!” Difa berusaha menjajari langkah Bagas.
Bagas dan Difa menyusuri koridor menuju kelasnya. Bagas dengan gaya cool-nya, sementara Difa sibuk tebar pesona ke cewek-cewek.
“Gas, lo pake dukun mana sih? Lo jalan biasa di depan mereka aja, tuh cewek-cewek pada ngeliatin lo sampe matanya mau keluar gitu. Sementara gue? Gue udah kerja keras tebar pesona di depan mereka, ditambah lagi gue keluarin senyuman maut gue sampe gigi gue kering gini, tapi mereka nggak ada yang peduli sama gue. Ngelirik aja nggak!” cerocos Difa panjang lebar.
“Hahaha…itu udah jadi nasib lo, terima aja!” ledek Bagas.
“Eits, bentar!” Difa menahan tangan Bagas untuk menghentikan langkahnya, menghadap ke sebuah kaca besar perpustakaan, “Liat deh, padahal jelas-jelas kalo gue lebih ganteng dari lo.” Lanjut Difa kepedean sambil mengamati dirinya  dan membandingkannya dengan Bagas di depan kaca.
“Kepedean tingkat tinggi lo! Ganteng dari Hongkong?” sahut Bagas sambil geleng-geleng kepala, lalu berjalan menuju kelas meninggalkan Difa.
“Yaahh…gue ditinggalin lagi.” Difa berlari mengejar Bagas.

{{{

Jam istirahat Bagas memutuskan untuk ke perpustakaan. Dicarinya satu per satu buku pada sebuah rak. Setelah menemukan buku yang dicarinya, Bagas mengambil buku itu dan langsung duduk di sebuah kursi dekat jendela. Tak butuh waktu lama, Bagas sudah tenggelam dalam buku yang dia baca.
Menyadari kehadiran Bagas, seorang gadis cantik mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca untuk melihat siapa yang duduk di sampingnya. Sesaat gadis itu terpana menatap wajah Bagas dari samping.
‘Manis.’ pikir gadis itu. Dan tanpa sadar gadis itu tersenyum.
Merasa diperhatikan, Bagas menoleh dan berganti menatap gadis itu. “Kenapa?” tanya Bagas dingin.
Gadis itu langsung salah tingkah, “Oh…mmm…nggak pa-pa kok.” Jawab gadis itu gelagapan.
Merasa risih di dekat gadis itu, Bagas menutup bukunya dan dengan cueknya berlalu meninggalkan gadis itu. Membuat gadis itu bengong.
“Dasar cowok aneh!” Gadis itu ngdumel sendiri, “Tapi…manis sih…” lanjutnya sambil senyum-senyum sendiri.
Tanpa sengaja, matanya jatuh pada sebuah buku yang sudah tergeletak di meja. Buku dengan sampul biru kotak-kotak.
“Buku siapa nih?” Gadis itu mengambil bukunya. Dibukanya buku itu dan pada halaman pertama tertulis…

                                       Nama: Bagas Rahman Dwi Saputra
                                       Kelas: XII IPA 1

‘Bagas?’ pikir gadis itu. Pikirannya kembali pada seorang cowok yang tadi sempat duduk di sampingnya.
“Jangan-jangan buku ini punya cowok tadi.” Gadis itu beranjak dari bangkunya dan buru-buru keluar mengejar cowok itu. Matanya terus mencari cowok itu. Tapi hasilnya nihil.
“Chelsea!” sebuah suara memanggil gadis itu.
Gadis yang ternyata bernama Chelsea itu menoleh.
“Lagi cari siapa lo?” Tanya Angel - teman sebangku Chelsea, yang melihat Chelsea kebingungan.
“Mmm…cari yang punya buku ini.” Jawab Chelsea sambil menunjukkan buku biru itu.
“Buku siapa?” Angel mengambil buku itu dari tangan Chelsea dan membaca nama pemiliknya.
Sesaat mata Angel terbelalak membaca deretan nama itu,”Kak Bagas?”
“Iya, kenapa? Kamu kenal?” Tanya Chelsea.
“Kok bukunya bisa sama lo sih?” Angel balik tanya.
“Tadi bukunya ketinggalan di meja sebelahku dan niatnya mau aku balikin. Tapi orangnya udah nggak ada. Kamu kenal?”
Angel tersenyum, “Siapa sih yang nggak kenal sama kak Bagas? Dia mantan ketos di sini, ganteng lagi. Makanya banyak cewek-cewek yang ngefans sama dia.”
“Oh…gitu ya? Chelsea manggut-manggut, “Kalo gitu sekarang temenin aku balikin buku ini yuk.”
Angel mengangguk, “Boleh.”

{{{

Dengan langkah ragu, Chelsea mendekati kelas XII IPA 1 bersama Angel. Entah kenapa jantungnya berdetak kencang.
“Kelasnya yang ini?” Tanya Chelsea sambil menunjuk sebuah kelas.
“Iya, tuh ada kak Difa. Tanya kak Difa aja, dia kan sahabatnya kak Bagas.” tunjuk Angel pada Difa yang kebetulan sedang berdiri di depan pintu kelas.
Chelsea dan Angel mendekati Difa.
“Permisi, kak!” sapa Chelsea pada Difa.
Difa yang sedang sibuk merapikan rambutnya di depan jendela kelas langsung menoleh. Difa terpesona melihat senyuman Chelsea.
‘Cantiknya…’ pikir Difa.
“Kak, aku mau tanya kak Bagasnya ada?” Tanya Chelsea.
Difa masih bengong.
“Kak!” panggil Chelsea lagi.
Masih tak ada respon dari Difa.
“Kak Difa!” Kali ini giliran Angel yang memanggil Difa sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Difa.
Difa langsung tersadar, “Eh, iya kenapa?” tanya Difa gugup.
“Kita nyari kak Bagas. Kak Bagasnya ada?” tanya Angel.
“Oh…ada, ada. Sebentar ya!”
“Bagas! Ada yang nyari!” teriak Difa dari pintu kelas.
Bagas menoleh, “Siapa?”
“Lo temuin aja!”
Dengan malas-malasan Bagas keluar kelas.
“Siapa, Dif?” tanya Bagas lagi.
“Nih…” tunjuk Difa pada Chelsea dan Angel.
Pandangan Bagas tertuju pada dua orang gadis yang ditunjuk Difa.
“Ada apa ya?” tanya Bagas.
Chelsea yang masih diam, tersadar saat tangan Angel menyenggol lengannya.
“Kak Bagas, aku mau kasih buku ini. Tadi ketinggalan di perpus.” Ucap Chelsea sambil memberikan buku itu pada pemiliknya.
Bagas menerimanya, “Oh iya, buku ini memang lagi gue cari. Makasih ya.” Ucap Bagas sambil tersenyum.
Chelsea mengangguk dan tersenyum. Lagi-lagi Chelsea terpana menatap Bagas. Apalagi saat Bagas tersenyum, jantung Chelsea rasanya berdetak tak beraturan.
“Udah kan, nggak ada lagi?” tanya Bagas yang melihat Chelsea bengong.
“Mmm…kak Bagas nggak mau tahu nama aku?” tanya Chelsea polos.
“Gue udah tahu kok.” Jawab Bagas yang membuat Chelsea membelalakan matanya.
“Jadi kak Bagas tahu nama aku?” tanya Chelsea girang.
Bagas menunjuk tag name yang terpasang di seragam Chelsea bertuliskan “AGATHA CHELSEA T”. Chelsea menunduk untuk melihat yang ditunjuk Bagas. Chelsea yang awalnya sudah terbang saking senangnya, tiba-tiba jatuh seketika. Awalnya dia mengira kalau Bagas benar-benar mengetahui namanya, tapi ternyata karena Bagas membaca tag name Chelsea. Chelsea merasa kecewa.
“Kalo udah nggak ada urusan lagi, gue masuk ke kelas dulu. Sekali lagi, makasih bukunya.”
Dengan cueknya Bagas langsung masuk ke kelas. Difa yang dari tadi Cuma diam, Cuma bisa menghela napas. Difa memang sudahpaham dengan sifat Bagas. Karena Difa memang sudah bersahabat dengan Bagas sejak di bangku SD.
Difa yang merasa nggak enak, langsung mendekati Chelsea dan Angel.
“Maafin sikap Bagas tadi ya.” Ucap Difa.
“Iya, nggak pa-pa, kak. Kita ngerti kok.” Jawab Angel.
‘What? Kita? Tapi aku nggak ngerti kenapa kak Bagas cuek banget gitu.’ Batin Chelsea.
“Oh iya, kita belum kenalan. Gue Difa.” Ucap Difa memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya pada Chelsea.
“Chelsea.” Chelsea tersenyum sambil membalasa uluran tangan Difa.
“Gue Angel.” Angel dan Difa juga bersalaman.
“Kayaknya…gue baru pernah liat lo deh.” Tanya Difa pada Chelsea.
“Iya, aku memang baru satu minggu sekolah di sini, kak.” Jawab Chelsea.
“Chelsea ini pindahan dari Bandung, kak.” Tambah Angel.
Bel masuk menghentikan pembicaraan mereka.
“Udah bel, kak. Kita ke kelas dulu ya.” Pamit Chelsea.
Difa mengangguk. Difa terus menatap kepergian Chelsea dan Angel. Setelah hilang dari pandangannya, Difa masuk ke kelasnya dengan hati yang berbunga-bunga. Bibirnya tak berhenti tersenyum membayangkan wajah Chelsea.

{{{

Bagas keluar kamarnya dan berjalan menuju ke sebuah piano kesayangannya di ruang tengah. Tak lama jari-jarinya dengan lincah memainkan tuts piano hingga menjadi sebuah nada yang indah. Bagas mulai mengalunkan sebuah lagu dari Peterpan berjudul Semua Tentang Kita.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama sejak dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama sejak dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Tanpa terasa air mata Bagas mulai menetes. Lagi-lagi pikirannya teringat semua tentang Cindai. Tawanya, senyumnya, dan wajahnya masih melekat di pikiran Bagas.
Bagas beranjak dari kursinya dan kembali ke kamarnya.

{{{

“Gas, lo mau pesen apa?” tanya Difa saat berada di kantin sekolah.
“Kayak biasa aja deh.” Jawab Bagas singkat.
Difa yang mengerti maksud Bagas, langsung berteriak ke salah satu penjual kantin, “Bu, biasa ya. Mie ayam dua, es teh dua.”
“Baik mas Difa.” Jawab ibu kantin yang memang sudah mengenal Difa.
Tak lama pesanan datang. Bagas dan Difa mulai menikmati makanan mereka. Bagas sibuk dengan handphonenya, sementara mata Difa jelalatan menatap seluruh pengunjung kantin. Hingaa matanya menatap kedua orang yang sedang kebingungan. Dan kalau Difa menebak, dua orang itu kebingungan lantaran nggak dapet tempat duduk. Saat itu kantin memang penuh.
“CHELSEA! ANGEL!” panggil Difa pada dua orang itu.
Yang dipanggil sama-sama menoleh. Termasuk Bagas. Chelsea dan Angel sesaat berpandangan dan kemudian memutuskan berjalan ke meja Difa dan Bagas.
“Kakak manggil kita?” tanya Chelsea polos.
“Enggak, manggil penjual kantin. Ya iya lah manggil kalian berdua. Kalian lagi bingung cari tempat duduk ya?”
“Iya, kak. Semuanya udah penuh. Padahal cacing-cacing di perut kita udah pada demo minta dikasih makan.” Jawab Chelsea sekenanya.
“Hehehe...ya udah, kalian gabung kita aja. Kebetulan masih ada dua bangku kosong.” Kata Difa.
“Beneran, kak?” tanya Angel.
“Iya, ya udah pada duduk deh.”
“Mmm...tapi apa kak Bagas...nggak keberatan?” tanya Chelsea pada Bagas yang dari tadi diam. Chelsea merasa kalau Bagas kurang suka dengan kehadirannya.
“Nggak. Kalian duduk aja.” Jawab Bagas singkat.
Akhirnya Chelsea dan Angel duduk di bangku yang masih kosong. Tepat berhadapan dengan Bagas dan Difa.
“Kalian mau pesen apa? Tenang aja...gue yang traktir deh.” Kata Difa”
“Nggak usah repot-repot, kak!” tolak Chelsea cepat-cepat.
“Iya, kak. Kita kan udah ditolongin dikasih tempat duduk, masa ditraktir juga?” lanjut Angel.
“Ya nggak pa-pa dong, sekali-sekali.” Difa nyengir kuda, “Mau pesen kayak gue juga atau mau pesen yang lain?”
“Mmm...gue samain aja. Kalo lo, Chel?” tanya Angel.
“Gue juga samain aja.”
Beberapa saat kemudian pesanan milik Chelsea dan Angel pun datang. Chelsea dan Angel mulai menikmati pesanan mereka. Mereka asyik ngobrol sambil sesekali bercanda dengan Difa.  Hanya Bagas yang lebih banyak diam. Kalau pun ditanya, Bagas hanya menjawabnya dengan singkat.
“Oh ya, Chel...ngomong-ngomong kenapa lo bisa pindah sekolah ke Jakarta?” tanya Difa kemudian.
“Sebenarnya...karena Papa aku dipindah tugas ke Jakarta. Jadi mau nggak mau, aku ikut pindah.” Jawab Chelsea.
Chelsea menatap Bagas, “Kak Bagas kenapa dari tadi diem aja? Apa kakak nggak suka kalo aku di sini?” tanya Chelsea hati-hati.
“Nggak pa-pa kok.” Jawab Bagas seperti biasa. Singkat.
Chelsea cuma menghela napas. ‘Kak Bagas ini kenapa sih? Irit banget ngomongnya? Memang orangnya yang pendiem atau lagi sariawan jadi males ngomong? Atau mungkin nggak suka sama aku, jadi ngomong seperlunya aja? Tapi nggak suka kenapa? Aku kan nggak punya salah apa-apa sama dia.’ Chelsea bertanya-tanya dalam hati.
“Chel, nanti lo pulangnya sama siapa?” tanya Difa mengalihkan pembiacaraan.
“Aku nanti nebeng mobilnya Angel, kak. Soalnya Papa aku lagi nggak bisa jemput.”
“Kalo gitu, gimana kalo gue yang anterin lo pulang?” tanya Difa.
“Nggak usah lah, kak. Nanti malah ngerepotin kak Difa. Lagian...rumahku dan rumah Angel juga searah kok.” Tolak Chelsea halus.
“Nggak ngerepotin kok, Chel.” Difa menatap Angel, “Ngel, nggak pa-pa kan kalo gue yang anterin Chelsea?”
“Ya...kalo gue sih nggak pa-pa, kak. Semuanya terserah Chelsea. Yang penting Chelsea pulang dengan selamat. Soalnya kalo sampai ada apa-apa sama Chelsea, gue akan bikin perhitungan sama kak Difa.” Kata Angel dengan nada bercanda tapi serius.
“Tenang aja, pokoknya Chelsea pulang dengan selamat.” Kata Difa yang kemudian menatap Chelsea, “Gimana, Chel? Lo mau kan?”
Chelsea berpikir sejenak, tapi kemudian mengangguk dan tersenyum.
Difa tersenyum senang, “Makasih, Chel.”
Chelsea mengerutkan keningnya, “Loh...kok kak Difa yang bilang makasih? Harusnya kan aku yang ngucapin makasih karena kak Difa mau nganterin aku pulang.”
Difa nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya nggak gatal.
“Gue ke kelas dulu.” Pamit Bagas tiba-tiba.
Bagas beranjak dari bangkunya. Tanpa menunggu jawaban dari yang lain, Bagas sudah berlalu keluar kantin. Chelsea sedikit kecewa karena bagas pergi. Chelsea hanya menatap Bagas sampai hilang dari pandangannya. Dan Difa sepertinya menyadari kekecewaan di wajah Chelsea.
‘Apa Chelsea menyukai Bagas?’ batin Difa mulai gelisah.

{{{

Ninja merah milik Difa berhenti tepat di depan rumah Chelsea. Chelsea turun dari motor Difa.
“Makasih ya, kak Difa udah nganterin aku pulang.” Ucap Chelsea.
Difa melepas helm fullface-nya, “Iya, sama-sama, Chel.”
“Mau mampir dulu, kak?”
“Makasih, kapan-kapan aja ya.”
Chelsea mengangguk dan tersenyum. Sesaat Chelsea memikirkan sesuatu yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya. Namun Chelsea ragu untuk menanyakannya pada Difa.
“Kenapa, Chel?” tanya Difa heran melihat wajah Chelsea.
“Kak...aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
“Mmm...tentang...kak Bagas.”
Mendengar nama Bagas, raut wajah Difa mendadak berubah. Muncul rasa cemburu di hatinya.
“Kak Bagas itu orangnya gimana sih? Mmm...maksud aku, apa memang dia orangnya cuek dan pendiem gitu sama semua orang? Atau Cuma sama aku aja? Soalnya aku ngerasa kalo kak Bagas itu nggak suka sama aku.”
Difa mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke jalan. ‘Kenapa sih Chelsea tanya-tanya tentang Bagas? Kenapa juga kayaknya Chelsea peduli banget sama Bagas? Apa dia beneran suka sama Bagas? Kenapa sih selalu Bagas??’ batin Difa kesal.
“Kak Difa!” panggil Chelsea.
Difa tersentak kaget. “Eh, iya?”
“Kenapa kak Difa diem?”
“Bagas itu sebenarnya orangnya baik kok, Chel. Tapi ada sesuatu hal yang bikin sifat dia berubah jadi cuek gitu. Tapi gue nggak bisa ceritain sekarang. Mungkin...kapan-kapan gue ceritain.”
Chelsea mengangguk mengerti, “Ya udah nggak pa-pa, kak.”
“Ya udah, lo masuk rumah deh. Gue pulang dulu ya.”
“Iya, sekali lagi makasih, kak.”
Difa mengangguk. Chelsea masuk ke rumahnya, sementara Difa memakai helm-nya dan mulai menjalankan motornya.

{{{

Difa berjalan mondar-mandir di dalam kamar Bagas. Bagas yang sibuk dengan laptopnya, mengalihkan pandangannya dan menatap Difa heran.
“Lo kenapa, Dif?”
Difa duduk di tepi ranjang – tepat di sebelah Bagas. “Gue lagi jatuh cinta, Gas.” Kata Difa serius.
Bagas tersenyum dan geleng-geleng kepala, “Gue kirain apaan.”
“Gas, gue serius. Gue beneran lagi jatuh cinta.”
“Sama cewek yang mana lagi? Setelah Oca, Dinda, Salma, Marsha, apa ada cewek lain lagi?” Bagas menyebutkan satu per satu mantan pacar Difa.
“Yang ini beda, Gas. Sejak pertama kali gue ketemu dia, gue rasa ada sesuatu yang aneh di hati gue. Tiap hari dia mampir mulu ke otak gue, jadi gue nggak pernah bisa berhenti mikirin dia. Wajahnya, senyum manisnya...sumpah, bisa bikin gue gila!” jelas Difa dengan semangat ‘45nya.
“Memang siapa orangnya?”
“Chelsea.”
Bagas mengangkat wajahnya dan kembali menatap Difa, “Chelsea?”
Difa mengangguk, “Ya, gue jatuh cinta sama Chelsea. Memang gue belum lama kenal sama dia. Tapi gue rasa...gue lagi terkena syndrom cinta pada pandangan pertama deh, Gas.”
“Ya kalo gitu, lo coba ungkapin perasaan lo aja sama dia.”
“Itu dia masalahnya, Gas. Gue nggak bisa ungkapin perasaan gue sama dia.”
Bagas mengerutkan keningnya, “Kenapa?”
“Karena dia sukanya sama lo.” Jawab Difa malas-malasan.
Bagas sedikit terkejut dengan kata-kata Difa, “Sama gue? Ya nggak mungkin lah.”
“Tapi itu yang gue liat, Gas. Cara dia natap lo, senyum tulus yang dia kasih buat lo, dan matanya yang berbinar setiap kali denger nama lo. Lagian…cewek mana sih yang nggak tergila-gila sama lo?”
Bagas hanya tersenyum tipis, “Tapi kan gue nggak punya perasaan apa-apa sama dia.”
“Beneran?” tanya Difa merasa sedikit lega.
Bagas hanya menghela napas dan pandangannya menerawang jauh ke jendela kamar yang terbuka, “Lo kan tau kalo dari dulu sampai sekarang cuma Cindai yang ada di hati gue.”
Difa menepuk pundak Bagas, “Ya, gue ngerti kok. Jadi…lo dukung kan kalo gue sama Chelsea?”
Bagas mengangguk dan tersenyum.
“Lo nggak akan nikung kan?” tanya Difa memastikan.
“Ya nggak lah, Dif. Lo tenang aja.”
“Thanks ya, Gas.”

{{{

Chelsea keluar dari toilet sambil merapikan roknya. Saat melewati taman belakang sekolah, Chelsea menghentikan langkahnya. Sebuah suara merdu membuat langkahnya terhenti. Rasa ingin tahu menuntunnya untuk mencari tahu siapa pemilik suara itu.
‘Kak Bagas?’ batin Chelsea saat melihat Bagas duduk di kursi taman sambil bermain gitar dan bernyanyi.

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama sejak dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Suara tepuk tangan Chelsea membuat Bagas tersentak kaget dan menoleh. Chelsea berjalan mendekati Bagas.
“Suara kak Bagas bagus banget.” Puji Chelsea.
“Ngapain lo ke sini?”tanya Bagas dingin.
Chelsea langsung duduk di samping Bagas, “Kebetulan tadi aku lewat sini, denger suara orang nyanyi bagus banget. Ternyata kak Bagas. Suara kakak merdu banget.” Puji Chelsea.
Bagas menghela napas dan hendak beranjak dari tempat duduknya, tapi ditahan oleh Chelsea.
“Tunggu, kak!” Chelsea menahan tangan Bagas.
Pandangan Bagas beralih ke tangan Chelsea yang sedang memegang tangannya. Buru-buru Chelsea melepaskan tangannya.
“Maaf, kak!” ucap Chelsea.
Bagas masih diam.
“Jangan pergi dong, kak! Aku kan masih pengen denger kakak nyanyi.” Lanjut Chelsea. Kali ini dengan senyum manisnya.
Melihat senyuman Chelsea, Bagas baru sadar kalau ternyata Chelsea itu sangat cantik. Pantas saja Difa menyukainya.
“Mau ya, kak. Pliiisss…!” Chelsea memohon.
Entah kenapa Bagas yang biasanya cuek, kali ini tidak bisa menolak permintaan gadis itu.
Bagas tersenyum, “Mau lagu apa?”
Mata Chelsea terbelalak kaget mendengar ucapan Bagas. Ditambah lagi bonus senyuman manis dari Bagas.
‘Apa ini mimpi? Kak Bagas senyum buat aku?’ batin Chelsea.
“Kok malah bengong? Nggak jadi ya? Ya udah deh, gue pergi aja.”  Kata Bagas hendak berdiri.
“Eh, jadi kak! Terserah kak Bagas deh mau nyanyi lagu apa.” Kata Chelsea cepat-cepat, takut Bagas berubah pikiran.
Bagas tidak menjawab, melainkan langsung memetik gitarnya dan mulai bernyanyi.

Dia sepi di sini
Tak seperti yang lain
Walau sudah takdirnya
Namun dia tetap tersenyum

Bahagialah bila
Kau masih punya mimpi
Hidup hanya sekali
Berikanlah yang terbaik

Merindukan purnama
Bertahan walau di dalam duka
Bersyukurnyalah kita
Masih banyak yang sayangi kita

Merindukan purnama
Meraih cinta
Cinta yang menyatukan kita

Bahagialah bila
Kau masih punya mimpi
Hidup hanya sekali
Berikanlah yang terbaik

Merindukan purnama
Bertahan walau di dalam duka
Bersyukurnyalah kita
Masih banyak yang sayangi kita

Merindukan purnama
Meraih cinta
Cinta yang menyatukan kita

Cinta cinta kita ooo

Merindukan purnama
Bertahan walau di dalam duka
Bersyukurnyalah kita
Masih banyak yang sayangi kita

Merindukan purnama
Meraih cinta
Cinta yang menyatukan kita

Untuk kedua kalinya Chelsea tepuk tangan. Chelsea benar-benar terpesona mendengar suara merdu Bagas.
‘Kak Bagas bener-bener perfect. Udah ganteng, senyumnya manis, suaranya bagus lagi. Bikin meleleh aja.’ Batin Chelsea.
“Aduh mas, suaranya bagus banget sih? Tapi maaf saya nggak ada receh, bayarnya pake apa dong?” kata Chelsea bercanda.
Bagas tertawa, “Emangnya gue pengamen apa?”
Chelsea ikut tertawa, “Bercanda kok, Kak. Kak Bagas tuh terlalu ganteng kalo buat jadi pengamen. Ups...” Chelsea menutup mulutnya saat menyadari kata-kata terakhirnya.
Chelsea menunduk malu, sementara Bagas Cuma senyum-senyum melihat wajah Chelsea yang malu-malu.
“Tapi hari ini aku seneng banget deh liat kak Bagas ketawa. Mau nyanyiin buat aku lagi. Makasih ya, kak.” Kata Chelsea senang.
Bagas terdiam. Merasa ada yang aneh. Perasaan senang berada di dekat gadis itu. Tapi kemudian Bagas mencoba menghilangkan rasa aneh itu. Setelah itu mereka asyik mengobrol sambil sesekali bercanda.
Dari kejauhan, seseorang menatap kesal ke arah Bagas & Chelsea dari balik pohon. Tangannya mengepal untuk menahan emosinya. Orang itu melampiaskannya dengan memukul pohon di depannya.

{{{

Sesampainya di kelas, Bagas bingung saat menyadari bangku Difa kosong. Tas Difa juga tidak ada.
“Jo, Difa ke mana?” tanya Bagas pada Josia-ketua kelas di kelas Bagas.
“Oh iya, tadi dia ijin pulang. Katanya nggak enak badan.”
Bagas mengerutkan keningnya. Padahal sebelumnya keadaan Difa baik-baik saja. Bagas mencoba menghubungi nomor Difa. Tapi nomornya nggak aktif.
‘Nanti gue coba hubungi dia lagi deh.’ Batinnya.

{{{

Keesokan harinya Bagas sengaja berangkat lebih pagi untuk mampir ke rumah Difa. Sudah beberapa kali Bagas mencoba menghubungi Difa. Tapi hasilnya sana, nomor Difa masih belum aktif juga. Jadi pagi itu Bagas ingin memastikan keadaan Difa. Tapi ternyata dia hanya bertemu dengan mamanya Difa yaitu tante Windy. Tante Windy mengatakan kalau Difa sudah berangkat ke sekolahnya. Bagas semakin bingung. Nggak biasanya Difa seperti ini. Apa Difa ada masalah?
Akhirnya Bagas berpamitan pada tante Windy dan memutuskan langsung berangkat ke sekolah. Di tengah perjalanan, Bagas melihat Chelsea di sebuah halte. Chelsea terlihat panik sambil beberapa kali melihat jam tangannya. Bagas ikut melihat jam tangannya. Benar saja, sudah jam 06.45 WIB. Chelsea bisa terlambat kalo masih belum berangkat juga.
Bagas pun menghentikan mobilnya tepat di depan Chelsea. Chelsea hanya mengerutkan keningnya saat melihat  mobil berplat nomor B 46 AS berhenti tepat di hadapannya. Bagas membuka kaca mobilnya.
“Kak Bagas?” tanya Chelsea heran.
“Kok lo belum berangkat? Nunggu siapa?”
“Lagi nunggu angkot, kak. Tapi sampai jam segini belum dapet, dari tadi penuh terus.”
“Ya udah, ikut gue aja.” Tawar Bagas.
“Hah? Beneran, kak?” tanya Chelsea tak percaya.
Bagas mengangguk dan tersenyum. “Ayo masuk, keburu telat.”
Dengan senang hati Chelsea langsung masuk ke mobil Bagas.

{{{

Bagas menghentikan mobilnya di parkiran sekolah.
“Makasih banyak ya, kak. Kakak udah nolongin aku. Kalo nggak, pasti aku udah telat.”
“Iya, sama-sama.”
Bagas dan Chelsea sama-sama keluar dari mobil. Beberapa cewek yang melihat Chelsea keluar dari mobil Bagas, Cuma bisa menatapnya iri sambil bisik-bisik. Chelsea merasa risih dengan keadaan itu.
“Kak, aku ke kelas dulu ya. Sekali lagi makasih.” Tanpa menunggu jawaban Bagas, Chelsea sudah berlari meninggalkan Bagas.
Bagas heran dengan sikap Chelsea, tapi dia berusaha tidak peduli dan langsung ke kelasnya. Saat melihat Difa di kelas, Bagas merasa lega karena sepertinya Difa baik-baik saja. Buru-buru Bagas menghampiri Difa.
“Dif!” sapa Bagas sambil menaruh tas ranselnya di meja.
Difa menoleh sebentar, lalu membuang muka.
“Lo kenapa sih? Apa lo ada masalah?” tanya Bagas heran dan langsung duduk di sebelah Difa.
“Lo pikir aja sendiri!” jawab Difa ketus.
Bagas hendak bertanya lagi, bersamaan dengan bel masuk berbunyi. Bagas mengurungkan niatnya. Jadi dia berniat untuk bertanya saat ;jam istirahat nanti.
Selama jam pelajaran pun Difa lebih banyak diam. Kalaupun ditanya, Difa hanya menjawabnya singkat. Itu pun dengan jawaban ketus. Bagas benar-benar dibuat bingung dengan sikap Difa yang tiba-tiba aneh seperti itu. Sampai akhirnya jam istirahat tiba. Begitu mendengar suara bel, Difa langsung berdiri dan keluar kelas.
“Tunggu, Dif!” panggil Bagas sambil mengejar Difa.
Difa tidak menghiraukan panggilan Bagas dan terus berjalan entah ke mana tanpa tujuan. Bagas mencoba menyamai langkah Difa.
“Dif, sebenernya lo kenapa sih? Apa lo lagi ada masalah? Atau gue punya salah sama lo?” tanya Bagas.
Difa menghentikan langkahnya dan tersenyum sinis.
“Lo emang nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti sih? Lo tuh munafik tau nggak, Gas?” kata Difa mulai emosi.
Bagas mengerutkan keningnya, “Sorry, Dif...tapi gue emang nggak ngerti. Maksud lo apa?” tanya Bagas bingung. Dia memang tidak mengerti maksud Difa.
Difa tersenyum sinis, “Di depan gue, lo bilang kalo lo nggak suka sama Chelsea. Tapi di belakang gue, lo coba deketin Chelsea. Maksudnya apa?? Munafik lo!” kata Difa dengan nada tingginya.
Bagas tercekat. Bagas baru ingat kalau tadi pagi dia dan Chelsea berangkat sama-sama ke sekolah. Pasti Difa salah paham.
“Dif, dengerin gue dulu! Gue sama sekali nggak pernah punya niat buat deketin Chelsea. Kalo soal tadi pagi, gue emang yang ajak Chelsea buat berangkat bareng. Tapi itu pun tanpa sengaja. Gue liat Chelsea kebingungan lagi nungguin angkot. Karena gue takut dia telat, jadi gue ajak sekalian. Niat gue Cuma buat nolongin aja, Dif.” Jelas Bagas.
“Terus apa yang di taman belakang sekolah kemarin juga tanpa sengaja?”
Bagas terdiam. Bingung harus menjawab apa.
“Kalo itu...” Bagas mencoba memkirikan kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya pada Difa, kalau semuanya tidak seperti yang dia lihat.
“Bingung kan lo jawabnya? Udah lah, Gas. Gue nggak mau denger apapun dari mulut lo. Semuanya udah jelas?” Difa pergi meninggalkan Bagas yang masih diam terpaku.

{{{

Bagas terdiam di kamarnya. Pikirannya benar-benar kacau. Hubungannya dengan Difa sedang buruk. Difa sama sekali tidak mau berbicara lagi dengannya. Ditambah lagi masalah Chelsea. Bagas bingung dengan perasaannya terhadap gadis itu. Saat berada di dekat Chelsea, Bagas merasakan ada sesuatu yang aneh. Tapi Bagas belum tahu perasaan apa itu.
Bagas mengambil handphonenya yang tergeletak di meja dan mencoba menghubungi Difa.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi.
Bagas menghela napas dan melemparkan handphonenya begitu saja ke ranjang. Bagas mengacak-acak rambutnya kesal.

{{{

Sudah satu minggu hubungan antar Bagas dan Difa buruk. Dan parahnya lagi, Difa tidak mau duduk satu bangku lagi dengan Bagas. Akhirnya Difa meminta bertukar tempat duduk. Difa dengan Gilang, sementara Bagas dengan Josia.
Untuk menjaga perasaan Difa, Bagas berusaha mengindari Chelsea. Setiap kali akan berpapasan dengan Chelsea, Bagas langsung menghindar. Setiap kali Chelsea mendekati Bagas, Bagas pun menghindar.

{{{

Difa dan Gilang berjalan menuju parkiran sekolah. Mereka naik ke motor masing-masing.
“Gue duluan, Dif.” Pamit Gilang.
“Oke.” Jawab Difa singkat.
Tak lama setelah Gilang menjalankan motornya, Difa menyusulnya dari belakang. Motor Difa melintas di hadapan Bagas. Bagas yang tersadar, berusaha mengejar Difa.
“DIFA! TUNGGU!” teriak Bagas.
Difa memperlambat laju motornya dan berhenti di depan pintu gerbang sekolah karena hendak menyebrang. Bagas berlari mendekati Difa.
“Dif!” panggil Bagas lagi.
“Mau ngapain lagi sih lo?” tanya Difa ketus.
“Dif, mau sampai kapan sih lo kayak gini terus? Kita sahabatan udah hampir enam tahun kan? Masa rusak hanya karena masalah sepele?”
“Apa lo bilang? Sepele? Lo nyadar nggak sih, Gas? Selama ini setiap kali cewek yang gue suka, pasti sukanya sama lo. Dan sekarang Chelsea. Awalnya lo bilang nggak suka, tapi nyatanya lo deketin juga kan? Apa sekarang gue harus ngalah juga?”
“Dif, mesti berapa kali lagi sih gue bilang, kalo gue nggak pernah coba buat deketin Chelsea.” Bagas mulai putus asa.
"Udah lah, Gas. Gue capek.” Difa hendak menjalankan motornya, tapi ditahan oleh Bagas.
Difa menghela napas. Sementara pandangan Bagas tersita pada Chelsea yang hendak menyebrang jalan. Difa mengikuti arah pandangan Bagas. Tepat pada saat itu, Chelsea menyebrang tanpa menengok ke kanan dan kiri. Akibatnya Chelsea tidak sadar kalau ada sebuah mobil yang hendak menabraknya.
“CHELSEA, AWAS!” teriak Bagas dan Difa bersamaan.
Chelsea menoleh dan begitu sadar ada sebuah mobil yang hendak menabraknya, kaki Chelsea tidak dapat bergerak. Chelsea menutup matanya.
“Aaaaaaaa!!!!” teriak Chelsea.
Secepat kilat Bagas berlari mendekati Chelsea dan mendorong tubuh Chelsea ke pinggir jalan. Bagas dan Chelsea sama-sama terjatuh ke pinggir jalan.
“Aw!” rintih Chelsea saat merasakan sakit di bagian lututnya.
Chelsea berusaha bangun dan menatap Bagas.
“Kak Bagas, kak Bagas nggak pa-pa?” tanya Chelsea cemas sambil membantu Bagas yang sedang mencoba berdiri.
Bagas masih terdiam sambil menunduk. Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuhnya.
Difa yang melihat kejadian itu, dengan panik turun dari motornya. Buru-buru Difa berlari menghampiri Bagas dan Chelsea.
“Bagas, Chelsea! Kalian nggak pa-pa?” tanya Difa khawatir.
“Aku nggak pa-pa kok, kak.” Jawab Chelsea, lalu menatap Bagas, “Tapi kak Bagas…”
Difa menatap Bagas dengan cemas, “Gas, lo nggak pa-pa?”
Bagas masih diam. Tubuhnya mulai gemetar. Kedua tangan Bagas memegang kepalanya. Kepalanya terasa sakit. Ingatannya kembali pada kejadian satu tahun yang lalu.

-FLASHBACK-
Siang itu Bagas menuju parkiran sekolah, menghampiri seorang gadis manis yang tengah menunggunya di dekat mobil. Saat melihat Bagas, gadis itu tersenyum. Senyum yang terukir di bibirnya membuat wajah gadis itu terlihat semakin manis. Itulah salah satu alasan yang membuat Bagas menyanyangi gadis itu.
“Pulang sekarang, kak?” tanya gadis itu lembut.
“Cindai...maaf ya, hari ini aku nggak bisa anter kamu pulang. Aku ada rapat OSIS mendadak. Nggak pa-pa kan kalo kamu pulang sendiri?”
Gadis yang ternyata bernama Cindai itu tersenyum, “Ya nggak pa-pa lah, kak. Aku bisa kok pulang sendiri.”
“Beneran nggak pa-pa?” tanya Bagas memastikan.
Cindai mengangguk dan tersenyum. Menatap senyum tulus Cindai, Bagas tersenyum lega. Gadis itu memang sungguh pengertian. Hal itu pula yang membuat Bagas menyayangi Cindai. Dan masih banyak hal lain juga yang membuat Bagas jatuh cinta pada Cindai.
“Ya udah, aku anter ke depan ya.”
Lagi-lagi Cindai mengangguk. Bagas menggandeng tangan Cindai sampai ke gerbang sekolah.
“Bagas!” panggil seseorang dari belakang.
Bagas menoleh. Rafli – wakil ketos, terlihat berlari menghampiri Bagas.
“Kenapa, Raf?” tanya Bagas.
“Lo udah ditunggu anak-anak, rapat mau dimulai.” Kata Rafli yang masih terengah-engah sambil mengatur napasnya.
“Ya udah, kak. Kasian anak-anak udah pada nungguin kak Bagas. Aku bisa pulang sendiri kok.”
“Ya udah deh, aku tinggal dulu. Kamu hati-hati ya di jalan.”
“Iya, kak. Ya udah sana, kakak udah ditungguin.” Cindai mendorong pelan tubuh Bagas.
“Yuk, Gas!” ajak Rafli.
Sebelum pergi, Bagas masih sempat menoleh menatap Cindai. Perasaan Bagas tidak enak. Tapi begitu melihat senyuman Cindai, Bagas merasa sedikit tenang. Lalu Bagas berbalik dan berjalan mengikuti Rafli menuju ruang OSIS. Baru beberapa langkah Bagas berjalan, terdengar suara teriakan Cindai. Sontak membuat Bagas menoleh ke arah teriakan itu. Sebuah mobil kijang hendak menabrak Cindai.
“CINDAAAIIII…!!!!” teriak Bagas sambil berlari hendak menyelamatkan Cindai. Namun…
BRAAKKK!!!!! Mobil itu akhirnya menabrak Cindai. Tubuh Cindai langsung terpental sampai beberapa meter. Tubuh Bagas langsung lemas. Perlahan Bagas berjalan mendekati Cindai. Mata Bagas berkaca-kaca menatap tubuh Cindai yang sudah berlumuran darah. Perasaan menyesal & perasaan bersalah menyelimuti Bagas. Bagas jatuh berlutut dan meraih tubuh Cindai ke dalam pelukannya.
“CINDAAAIIII!!!”
-FLASHBACK END-

“Aaaaarrrggghhhhh!!!!” teriak Bagas sambil memegang kepalanya.
“Kak Bagas, kak Bagas kenapa?” tanya Chelsea khawatir bercampur takut. Air mata Chelsea mulai tumpah.
“Gas, sadar Gas!” kata Difa sambil menepuk-nepuk pelan pipi Bagas.
“Aaarrrgghh!” teriak Bagas lagi, kali ini sambil meremas rambutnya sendiri. Tak lama setelah itu Bagas pingsan. Dengan cepat Difa menangkapnya.
“Kak Difa, kak Bagas kenapa?” tanya Chelsea takut.
“Chel, lo tenang dulu. Lo jagain Bagas ya, gue ambil mobil Bagas dulu.” Kata Difa menenangkan.
Diambilnya kunci mobil dari saku Bagas.  Lalu Difa ke parkiran sekolah untuk mengambil mobil Bagas. Difa membawa Bagas ke dalam mobil dengan dibantu Chelsea dan beberapa orang yang ikut menolong. Kemudian Difa melajukan mobilnya ke rumah Bagas.

{{{

Difa menghentikan mobil Bagas tepat di depan rumah Bagas. Difa menoleh ke jok belakang. Bagas masih belum sadar. Chelsea juga berada di belakang menjaga Bagas.
“Sebentar ya, Chel. Gue cari bantuan dulu buat bawa Bagas  masuk ke dalem.” Kata Difa.
“Iya, kak.” Jawab Chelsea singkat.
Difa keluar dari mobil dan menuju rumah Bagas. Seorang cowok membukakan pintu setelah dua kali Difa menekan bel. Tak lama setelah Difa berbicara dengan cowok itu, Difa dan cowok itu buru-buru menghampiri mobil milik Bagas. Wajah cowok itu terlihat cemas.
Difa membuka pintu mobil belakang.
“Ya udah, tolong bantu bawa Bagas ke kamar ya.” Kata cowok itu.
Difa dan cowok tadi menggendong Bagas menuju kamar. Chelsea hanya mengikuti dari belakang. Sesampainya di kamar, Difa dan cowok itu membaringkan Bagas ke tempat  tidur. Lalu cowok itu menyelimuti setengah badan Bagas dengan selimut warna merahnya.
Cowok itu menatap heran Chelsea yang terlihat khawatir dengan keadaan Bagas. Seolah mengerti tatapan cowok itu, Difa akhirnya memperkenalkan Chelsea pada cowok itu.
“Kak Adit, kenalin…ini Chelsea, temen gue sama Bagas. Chel, ini kak Adit – kakaknya Bagas.” Jelas Difa.
“Mmm…kenalin, aku Chelsea, kak.” Kata Chelsea sambil tersenyum dan mengajak Adit untuk bersalaman.
Adit tersenyum dan membalas uluran tangan Chelsea, “Aku Adit.”
Adit kembali menatap Difa, “Sebenernya ada apa sih, kok Bagas bisa pingsan lagi?” tanya Adit ingin tahu.
“Maaf, kak. Ini semua salah aku. Aku ceroboh, tadi pas aku mau nyebrang nggak liat jalan. Aku hampir aja ketabrak mobil, tapi ada kak Bagas yang nyelametin aku. Jadinya malah kak Bagas yang kayak gini. Sekali lagi, maafin Chelsea, kak. Semua salah Chelsea.” Jelas Chelsea sambil menangis.
“Jadi Bagas yang nyelametin kamu?” tanya Adit tak percaya.
Chelsea mengangguk, “Kalo kak Adit mau marah, marah aja sama aku, kak.”
“Chel, ini semua bukan salah lo. Lagian ini semua juga kemauan Bagas buat nolongin lo. Bagas cuma nggak mau lo sampe kenapa-kenapa.” Sela Difa.
“Iya, Chel. Kamu jangan nyalahin diri kamu gitu. Pasti Bagas juga tulus nolongin kamu.” Tambah Adit.
“Oom Angga sama tante Ira di mana, kak?” tanya Difa mengalihkan pembicaraan.
“Papa sama Mama lagi di luar kota. Berangkat tadi pagi.” Jawab Adi, “Oh ya, gue bikini minum dulu buat kalian ya.”
Difa dan Chelsea mengangguk. Setelah Adit keluar kamar, Chelsea duduk di kursi samping tempat tidur Bagas. Chelsea menatap Bagas dalam-dalam. Air mata Chelsea mulai menetes lagi.
Difa hanya menghela napas. Menatap Chelsea dan Bagas secara bergantian dengan perasaan sedih. Difa baru menyadari begitu besar rasa sayang Bagas untuk Chelsea, sampai-sampai Bagas rela  mengorbankan nyawanya untuk Chelsea. Padahal sejak kepergian Cindai, Bagas berubah menjadi seseorang yang tidak pernah peduli dengan orang lain. Dan kini Chelsea hadir, sedikit demi sedikit merubah segalanya. Difa tahu, kalau Bagas mulai peduli dengan Chelsea.
Dan Chelsea? Difa pun tahu, kalu sejak awal Chelsea sudah menyukai Bagas. Difa dapat merasakan kesedihan yang dirasakan Chelsea saat melihat keadaan Bagas seperti ini. Apalagi saat melihat air mata Chelsea, hati Difa ikut merasa sakit. Difa hanya menunduk.

{{{

Satu jam berlalu. Bagas masih belum sadarkan diri. Difa, Chelsea, dan Adit maish setia menunggu Bagas.
“Chel, udah sore. Sebaiknya lo pulang. Gue anterin lo pulang ya.” Kata Difa.
“Tapi kak Bagas belum sadar, kak.” Ucap Chelsea.
“Chelsea, Bagas nggak pa-pa kok. Lo nggak usah khawatir, kan ada gue sama Difa yang jagain Bagas.” Tambah Adit.
“Lo perlu istirahat, Chel. Jangan sampai lo ikutan sakit juga.” Tambah Difa lagi.
Chelsea berpikir sejenak, lalu mengangguk, “Tapi kalo ada apa-apa tolong kasih tahu aku ya, kak.”
Difa mengangguk. Setelah berpamitan pada Adit, Difa mengantar Chelsea pulang.

{{{

Di dalam mobil, perjalanan pulang ke rumah Chelsea…
“Kak, kenapa kak Bagas nggak dibawa ke dokter aja sih?” tanya Chelsea membuka pembicaraan.
Difa yang sedang konsen menyetir, hanya menatap Chelsea sebentar, “Ini bukan pertama kalinya Bagas kayak gini kok, Chel.” Ujar Difa.
Chelsea mengerutkan keningnya tak mengerti, “Maksud kak Difa?”
“Setiap kali Bagas mengalami kejadian di masa lalunya yang pahit itu, Bagas akan mengalami hal seperti tadi, Chel.”
“Mmm….kalo boleh tahu, masa lalu apa yang bikin kak Bagas jadi kayak gini?” tanya Chelsea ingin tahu.
“Satu tahun yang lalu…pacar Bagas meninggal karena kecelakaan. Namanya Cindai.” Jelas Difa yang membuat Chelsea terkejut.
“Meninggal, kak?”
Difa mengangguk, “Ya…kejadiannya sama persis kayak tadi. Di tempat yang sama juga. Waktu itu…Bagas nggak bisa anterin Cindai pulang karena ada rapat OSIS mendadak. Jadi Cindai pulang sendirian. Waktu nyebrang jalan, Cindai tertabrak mobil dan meninggal di tempat. Bagas udah berusaha buat nolongin Cindai, tapi terlambat. Dan hal itulah yang sampai sekarang membuat Bagas masih terus menyalahkan dirinya sendiri.” Jelas Difa
Chelsea terdiam. Dia nggak menyangka kalau Bagas mempunyai masa lalu sepahit itu.
“Dan sejak kejadian itu, Bagas berubah menjadi orang yang pendiam, lebih suka menyendiri, cuek, dan nggak peduli sama perasaan orang lain. Dan satu lagi, Bagas belum bisa membuka hatinya untuk cewek lain.” Lanjut Difa.
“Mmm…kalo boleh tahu, kak Cindai itu orangnya gimana, kak?”
Difa mengambil handphonenya dan sesaat mengutak-atik handphone miliknya sebelum memberikannya pada Chelsea.
“Itu foto gue, Bagas sama Cindai.” Ujar Difa.
Chelsea menatap layar handphone Difa. Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang  sedang tersenyum manis.




‘Manis banget.’ Batin Chelsea.
“Cindai itu…orangnya manis banget, baik, lembut, dan perhatian. Tipe cewek idaman semua cowok deh. Dan yang paling penting, Cindai itu sayang banget sama Bagas, begitu pun sebaliknya.” Jelas Difa.
Dari cerita Difa, Chelsea akhirnya mengerti begitu sayangnya Bagas pada Cindai. Dan dengan meninggalnya Cindai, pastinya Bagas merasa sangat kehilangan. Chelsea juga mengerti kenapa Bagas begitu menutup diri dan sangat cuek.
‘Apa benar kak Bagas juga menutup pintu hatinya buat cewek lain?’ batin Chelsea. Chelsea hanya memandang kosong ke jalan melalui kaca mobil.
Tanpa terasa Difa menghentikan mobil di depan rumah Chelsea.
“Udah nyampe, Chel. Mau sampai kapan ngelamunnya?” tanya Difa bercanda saat melihat Chelsea masih asyik melamun.
Chelsea tersadar dari lamunannya, “Eh, maaf, kak. Udah nyampe ya?” Chelsea nyengir kuda.
“Asyik banget ngelamunnya? Ya udah, kalo lo masih mau ngelamun, ngelamun aja. Gue tungguin kok.”
Chelsea tertawa, “Kak Difa apaan sih?”
“Mmm…Chel!”
“Kenapa, kak?”
“Lo suka ya sama Bagas?” tanya Difa to the point.
Chelsea terkejut dengan pertanyaan Difa. Jantungnya serasa mau copot. Jujur dia tidak siap diberi pertanyaan seperti itu. Pipi Chelsea mulai merona.
“Mmm…aku…aku…”
“Ya udah, nggak usah dijawab.”
Hanya melihat rona merah di pipi Chelsea, Difa semakin yakin kalau Chelsea memang menyukai Bagas. Difa hanya tersenyum pahit. Dia harus menerima kenyataan kalau sebenarnya Chelsea dan Bagas mempunyai perasaan yang sama. Meski sampai saat ini Bagas mungkin belum menyadarinya.
“Bagas itu orang yang baik, Chel. Kalau dia udah sayang sama seseorang, dia pasti akan benar-benar menjaga orang itu. Dan dia akan mengorbankan apapun untuk orang itu, sekalipun nyawa dia sendiri.” Lanjut Difa.
‘Dan itu udah terbukti dengan kejadian tadi. Bagas rela mengorbankan nyawanya buat lo, Chel.’ Batin Difa.
Difa menghela napas, “Ya udah, lo masuk deh. Gue harus balik ke rumah Bagas. Dan lo tenang aja, nanti gue kabarin lagi gimana keadaan Bagas.”
Chelsea mengangguk, “Makasih banyak ya, kak.”

{{{

“Chelsea…Chelsea…” ucap Bagas pelan di dalam tidurnya.
Difa yang duduk di sebelah tempat tidur Bagas, menoleh dan menatap Bagas.
“Gas, lo udah sadar?”
Bagas membuka matanya perlahan dan menatap Difa. Bagas terbangun dan langsung mengambil posisi duduk. Pikiannya tersentak kaget pada kejadian siang tadi. Dan hanya satu yang ada di pikiran Bagas saat ini. Chelsea. Bagas menatap sekeliling kamarnya. Tapi Chelsea tidak ada.
“Dif, Chelsea mana? Apa dia baik-baik aja?” tanya Bagas dengan wajah khawatir bercampur panik.
“Lo tenang aja, Chelsea baik-baik aja kok. Dari tadi siang dia di sini, nungguin lo. Tapi barusan gue anterin pulang.” Jelas Difa.
Bagas menghela napas lega, “Thanks ya, Dif.”
“Buat apa?”
“Lo tadi udah nolongin gue waktu pingsan tadi dan lo nungguin gue sampe sadar.”
“Apaan sih lo, Gas? Lo itu kan sahabat gue. Dan sebagai sahabat yang baik, gue akan selalu ada di saat lo susah maupun seneng.”
“Jadi…lo udah nggak marah lagi sama gue?” tanya Bagas tak percaya.
“Hmm…masih marah sedikit sih. Tapi nggak baik juga marahan lama-lama. Kita baikan deh…” kata Difa sembari tersenyum dan mengacungkan jari kelingkingnya.
Bagas tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Difa, “Best friend forever…”
“Best friend forever…” balas Difa, “ Ya udah, Gas. Udah sore, gue balik dulu ya.” Pamit Difa.
“Bagas mengangguk, “Sekali lagi makasih ya, Dif.”
“Lebay lo ah, bilang makasih mulu.”
Bagas hanya menanggapinya dengan tawa.
“Oh ya, Gas…tadi keliatannya Chelsea khawatir banget sama lo. Lo coba hubungi dia deh, kasih tau kalo keadaan lo udah baik-baik aja. Nih nomornya…” Difa memberikan sebuah kertas kecil pada Bagas.
Dengan ragu Bagas menerimanya.
“Gue pulang dulu ya.” Difa keluar kamar dan meninggalkan Bagas yang masih diam terpaku.

{{{

 Aku diam-diam suka kamu
Ku coba mendekat
Ku coba mendekati hatimu
Aku diam-diam suka kamu
Semua kan indah seandainya aku bisa memilikimu

Bibir Chelsea tak berhenti tersenyum saat menatap layar handphonenya. Di dalamnya terdapat sebuah foto yang diambilnya secara diam-diam. Foto seseorang yang telah membuatnya jatuh hati.
“Kak Bagas….” Ucapnya pelan.
Di saat sedang asyik-asyiknya memandang foto itu, sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar handphonenya. Kening Chelsea berkerut menatap nomor itu. Chelsea merasa tidak mengenali nomor itu. Dengan ragu Chelsea mengangkatnya.
“Hallo…” sapa Chelsea.
“Hallo…benar ini nomornya Chelsea?” tanya orang di seberang.
“Iya, maaf ini siapa ya?”
“Gue…Bagas, Chel.”
Chelsea ternganga tak percaya, “Kak Bagas?”
“Iya. Gue cuma mau mastiin keadaan lo. Lo baik-baik aja kan?”
“Aku baik-baik aja kok, Kak. Harusnya aku yang nanya sama kak Bagas, kakak baik-baik aja kan?”
“Gue nggak pa-pa kok, Chel.”
“Syukurlah kalo kakak nggak pa-pa. Makasih ya, kak…tadi kak Bagas udah nolongin aku. Mungkin kalo tadi kak Bagas nggak nolongin aku, aku udah…” ujar Chelsea terpotong.
“Sssssttt…udah nggak usah dilanjutin lagi. Untuk lain kali, lo harus hati-hati ya. Jangan ceroboh lagi kayak tadi.”
“Iya, kak. Makasih buat perhatiannya.” Chelsea tersenyum senang mendapat perhatian dari Bagas. Dia serasa terbang ke langit ke tujuh, “Mmm…kak!”
“Hmm?”
“Besok kan hari Minggu, kak. Kak Bagas ada acara nggak?”
“Nggak ada. Memangnya kenapa?”
“Mau temenin aku ke suatu tempat?”
“Ke mana?”
“Rahasia dong. Aku mau tunjukkin tempat yang indah banget. Mau ya, kak? Pliiiiisss…!”
Bagas terdiam, sepertinya dia sedang berpikir.
“Oke deh. Mau dijemput jam berapa?”
“Besok siang jam dua ya, kak?”
“Ya udah, lo SMS-in alamat lo ya. Besok gue jemput.”
“Beneran, kak?” tanya Chelsea girang.
“Iya. Ya udah, udah malem. Lo istirahat ya.”
“Iya, kak. Kak Bagas juga ya. Have a nice dream…”
“Have a nice dream, too…”
Setelah menutup teleponnya, Chelsea melompat-lompat kegirangan. Hanya mendengar suara Bagas, hati Chelsea terasa berbunga-bunga. Ditambah lagi besok dia akan pergi bersama Bagas, kebahagiaan Chelsea semakin lengkap.

{{{

Bagas memperlambat laju mobilnya di sebuah perumahan. Matanya tak berhenti menatap satu per satu rumah yang dilewatinya. Mobilnya berhenti tepat di depan sebuah rumah bercat kuning muda. Bagas mengambil handphonenya dan membaca ulang sms dari Chelsea yang berisi alamat rumah Chelsea.
“Kayaknya yang ini deh…” gumam Bagas.
Setelah yakin bahwa rumah itu adalah rumah Chelsea, Bagas keluar dari mobil. Sambil bersandar pada mobilnya, Bagas mencari kontak Chelsea di handphonenya. Setelah ketemu, Bagas melakukan panggilan ke nomor Chelsea.


“Hallo, kak Bagas!” sapa Chelsea semangat.
“Gue udah di depan rumah lo, lo keluar ya.”
“Siap, kak. Tunggu ya!”
Tak butuh waktu lima menit, Chelsea keluar rumahnya dan buru-buru menghampiri Bagas.
“Kak Bagas!” panggil Chelsea.
Bagas menoleh. Chelsea tersenyum saat Bagas menatapnya. Dan jujur membuat Bagas terpana. Hari ini Chelsea terlihat sangat cantik dengan dress warna merahnya. Di tangan kanannya, Chelsea membawa sebuah keranjang berukuran sedang.
“Lo bawa apaan?” tanya Bagas sambil menatap tangan kanan Chelsea.
“Bawa bekal buat makan kita nanti, kak.” Chelsea nyengir kuda.
“Ya udah, berngkat yuk.”
Chelsea mengangguk dan tersenyum.

{{{

Di perjalanan…
Bagas dan Chelsea sama-sama diam karena bingung memulai topik pembicaraan. Chelsea melirik ke arah Bagas. Bagas tetap cool dan konsen menyetir mobilnya.
“Kak!” panggil Chelsea.
“Hmm?” jawab Bagas sambil sekilas melirik Chelsea.
“Nggak pa-pa, cuma absen aja, hehehe… Habis kak Bagas diem aja. Kirain nyetirnya sambil tidur.” kata Chelsea sok ngelucu.
Bagas Cuma tersenyum sambil geleng-geleng kepala, lalu kembali konsen menyetir. Chelsea cuma menghela napas. Rasanya gemes juga ngeliat Bagas diem aja. Kayaknya baterainya udah habis dan perlu diganti yang baru.
“Kita mau ke mana sih?” tanya Bagas kemudian.
“Udah, kak Bagas ikutin aja. Aku yang nunjukkin jalannya. Nanti kak Bagas juga tahu kok.”
Bagas cuma nurut aja. Bagas merasa ada yang aneh pada dirinya. Kenapa dia merasa nggak sanggup menolak permintaan gadis itu? Padahal selama ini Bagas belum pernah merasakan hal seperti ini pada cewek selain Cindai. Apa itu artinya Chelsea bisa menggantikan posisi Cindai di hatinya? Entahlah… Bagas masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Untuk memecah keheningan di antara mereka, Bagas mencoba menyalakan radio. Sebuah lagu dari Adera mengalun pada salah satu stasiun radio.

Saat ku tenggelam dalam sendu
Waktupun enggan untuk berlalu
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu

Semakin ku lihat masa lalu
semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
Saat ku melihat senyummu

Sesekali Bagas curi-curi pandang kea rah Chelsea. Saat Chelsea menyadari Bagas sedang menatapnya, Chelsea balas menatap Bagas. Chelsea hanya tersenyum. Manis banget. Dan lagi-lagi membuat Bagas terpesona. Bagas merasa ada getaran di hatinya saat  melihat senyuman Chelsea. Senyuman itu seolah menerangi jiwa Bagas yang telah lama gelap. Senyuman itu pula yang member sedikit kekuatan untuk Bagas.

Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku

{{{

Kini ku ingin hentikan waktu
Bila kau berada di dekatku
Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku
Kan ku petik satu untukmu

“Sampai deh, kak!” seru Chelsea senang.
Bagas menghentikan mobilnya. Setelah memarkirkan mobilnya, Bagas dan Chelsea keluar dari obil. Pemandangan yang tak biasa kini ada di depan mata Bagas. Bagas menatapnya takjub. Hanya sebuah danau sederhana tapi mampu menyejukkan hati Bagas.
“Bagus kan, kak?” tanya Chelsea.
Bagas hanya mengangguk. Masih menikmati keindahan danau pada sore itu.
“Duduk di sana yuk, kak!” ajak Chelsea sambil menunjuk sebuah bangku panjang di dekat danau.
Belum sempat Bagas menjawab, Chelsea sudah menarik tangan Bagas. Sampai akhirnya Bagas dan Chelsea duduk berdua di bangku itu. Sesaat mereka terdiam sambil menikmati pemandangan indah di depan mereka.


“Gue baru tahu kalo ternyata di Jakarta ada tempat seindah ini.”  Bagas memulai pembicaraan.
Chelsea hanya tersenyum.
Bagas menatap Chelsea, “Kata Difa bukannya lo pindahan dari Bandung? Lo tahu tempat ini dari mana?” tanya Bagas heran.
“Iya, dari kecil memang aku tinggal di Bandung. Tapi nenekku ada di Jakarta. Jadi hampir setiap liburan sekolah pasti aku dan keluargaku ke Jakarta. Dan kebetulan rumah nenek aku ada di dekat sini. Jadi…aku sering ke danau ini.” Jelas Chelsea.
Bagas masih diam. Mungkin masih asyik menikmati keindahan danau itu.
“Yang bikin aku suka sama tempat ini…tempat ini bisa bikin aku tenang, kak. Kalo aku lagi Be-Te atau lagi ada masalah, aku pasti ke sini, kak. Rasanya tenang banget. Aku bisa ngelupain masalah-masalahku.” Chelsea mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, “Dan yang paling penting ini, kak.” Chelsea menunjukkan sebuah botol kecil pada Bagas.
Bagas mengerutkan keningnya, “Apa itu?”
Chelsea membuka tutup botol itu, dicelupkannya sebuah kawat kecil yang bagian ujungnya berbentuk lingkaran. Lalu Chelsea meniup ujung kawat itu. Gelembung-gelembung sabun tercipta  dari kawat itu. Gelembung-gelembung sabun itu mulai berterbangan bebas mengikuti ke mana arah angin. Chelsea tersenyum senang. Entah kenapa hal itu terlihat indah di mata Chelsea.
Chelsea menatap Bagas, “Mau coba, kak?”
Bagas menggeleng cepat, “Nggak ah, kayak anak kecil.”
“Coba dulu, kak!” paksa Chelsea sambil memberikan botol kecil itu.
“Nggak mau.” Jawab Bagas lagi.
Chelsea memanyunkan bibirnya dan pura-pura ngambek.
“Yeee…gitu aja ngambek?”
Chelsea cuma diam dan masih pasang tampang cemberut.
“Ya udah, sini gue coba juga.” Bagas mengalah dan mengambil botol kecil itu dari tangan Chelsea.
“Horeee…akhirnya kak Bagas mau coba juga!” Chelsea lompat-lompat kegirangan, seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan.
Bagas Cuma tersenyum melihat tingkah lucu Chelsea. Bagas mencelupkan kawat ke dalam botol kecil itu. Bagas hendak meniupnya, tapi tangannya ditahan oleh Chelsea.
“Tunggu, kak!”
Bagas menaikkan alisnya, “Kenapa?”
“Sekarang pejamin mata kakak dulu!”
“Buat apa?”
“Udah, kak Bagas pejamin mata aja!”
Bagas menghela napas karena lagi-lagi tidak bisa menolak permintaan Chelsea. Bagas mulai memejamkan matanya.
“Sekarang…tenangin diri kak Bagas dulu. Setelah kakak merasa tenang, coba kumpulin semua beban yang ada di diri kakak! Terus kumpulin semua masalah-masalah kakak!”
Bagas diam sambil memejamkan matanya. Mencoba menenangkan dirinya. Dan mencoba mengumpulkan semua beban di dirinya.
“Kalo udah…buka mata kakak!” perintah Chelsea.
Bagas membuka matanya.
“Sekarang bisa kak Bagas tiup! Kak Bagas coba keluarin semua beban dan masalah kakak!”
Bagas meniup ujung kawat hingga tercipta banyak gelembung sabun.
“Biarkan semua masalah kakak terbawa oleh gelembung-gelembung sabun itu. Biarkan semua beban di hati kakak terbawa oleh angin melalui gelembung-gelembung sabun itu.”
Bagas hanya menatap gelembung-gelembung sabun yang terbawa oleh angin sampai hilang dari pandangannya. Entah kenapa setelah itu Bagas merasa lega. Bagas merasa bebannya sedikit berkurang. Meski tidak sepenuhnya, tapi Bagas merasa tenang.
“Gimana, kak?” tanya Chelsea.
Bagas tersenyum, “Nggak tahu kenapa, rasanya jadi lega banget, Chel.”
Chelsea ikut senang mendengarnya. Berarti triknya berhasil. Karena selama ini, hal itulah yang dilakukan Chelsea apabila dia mempunyai masalah.
“Makasih ya, Chel. Sekarang…gue ngerasa lebih tenang.” Ucap Bagas.
Chelsea tersenyum dan mengangguk. Lalu Chelsea menepuk keningnya seperti ingat sesuatu.
“Ya ampun, kak…aku lupa!”
“Kenapa?”
“Tadi sebelum berangkat, aku bikin kue coklat. Ini sebagai ucapan terima kasih karena kemarin kak Bagas udah nolongin aku. Cuma hal kecil sih, tapi kakak cobain ya, kalo perlu dihabisin semuanya.” Chelsea nyengir kuda, lalu menmgeluarkan satu kotak makan dari kerangjang yang dibawanya tadi. Ditambah dengan beberapa makanan lain yang sudah disiapkannya sebelum berangkat.
Chelsea membuka kotak makan itu, “Nih, cobain, kak!”
Bagas mengambil sepotong kue coklat itu dan mulai memakannya.
“Enak nggak, kak?” tanya Chelsea harap-harap cemas menunggu jwaban Bagas.
“Enak kok.” Jawab bagas akhirnya.
Chelsea tersenyum lega “Kalo gitu habisin aja, kak!”
“Masa Cuma gue aja yang makan? Lo juga harus ikut makan dong?”
“Enggak ah, kak. Buat kak bagas aja. Kan aku bikin kue ini khusus buat kak Bagas.”
Bagas mengambil satu potong kue lagi dan menyuapkannya ke Chelsea, “Ayo dimakan…”
Chelsea terkejut dengan perlakuan Bagas yang tiba-tiba, “Kak…?”
“Ayooo aaaa…”
Chelsea akhirnya mau memakan kue itu.
“Nah, gitu dong…” Bagas tersenyum.
Chelsea menunduk malu. Pipinya mulai merona. Chelsea merasa perlakuan Bagas itu sangat manis.
“Sini, kak…aku bisa makan sendiri kok. Aku kan bukan anak kecil lagi. Hehehe…” Chelsea berusaha menutupi rasa groginya. Lalu mengambil kue itu dari tangan Bagas.
Mereka pun menikmati kue itu sambil bercerita dan bercanda. Hari itu Chelsea merasa sangat bahagia. Chelsea bisa dekat dengan Bagas. Ternyata yang dikatakan Difa benar, Bagas itu sebenarnya orang yang baik dan perhatian.
Hal yang sama dirasakan Bagas. Bagas juga merasa bahagia berada di dekat Chelsea. Chelsea bisa membuat hidup Bagas berwarna. Dan Chelsea pula yang mampu menerangi hidup Bagas yang telah lama gelap.

Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku


{{{


Bagas mengehentikan mobilnya di depan rumah Chelsea. Waktu menujukkan pukul 19.00 WIB. Bagas dan Chelsea keluar dari mobil.
“Sekali lagi makasih ya, kak. Hari ini aku seneng banget.” Ucap Chelsea.
“Sama-sama. Gue juga seneng kok. Ya udah, gue pamit pulang dulu ya.” Pamit Bagas.
“Tunggu, kak!” kata Chelsea cepat-cepat menahan Bagas.
“Kenapa?” tanya Bagas heran.
Chelsea ragu untuk mengatakannya. Sementara Bagas masih menunggu jawaban Chelsea.
“Mmm…aku…aku udah denger cerita tentang kak Cindai dari kak Difa.” Chelsea akhirnya memberanikan diri untuk berkata.
Bagas terkejut dengan kata-kata Chelsea, namun berusaha terlihat tenang.
“Sampai kapan sih kak Bagas mau kayak gini terus? Sampai kapan kak Bagas mau terus-menerus larut dalam kesedihan? Dan sampai kapan juga kak Bagas terus menengok ke belakang tanpa memikirkan masa depan kakak?” Chelsea sejenak mengatur napasnya sebelum melanjutkan kata-katanya, “Aku yakin kak Cindai di sana juga pasti nggak akan suka ngeliat kak Bagas kayak gini. Kak Cindai pasti ikutan sedih ngeliat kakak kayak gini.”
Bagas masih diam. Dia merasa tidak suka dengan kata-kata Chelsea.
“Coba buka hati kakak! Masih banyak orang-orang di sekitar kakak yang sayang sama kakak.”
Tangan Bagas mengepal untuk menahan amarahnya, “Dengar ya, Chel. Lo itu orang baru di hidup gue. Lo nggak tau apa-apa tentang gue. Dan lo juga nggak tau apa-apa tentang Cindai. Jadi lo nggak usah ikut campur urusan gue! Karena gue nggak suka sama orang yang suka ikut campur urusan orang lain.” Kata Bagas marah, “Lebih baik…mulai sekarang…lo jauhin gue! Jangan ganggu hidup gue lagi!” lanjut Bagas pelan. Dia nggak sanggup  mengucapkan kata-kata terakhirnya.
Air mata Chelsea mulai menetes. Dia sungguh tak percaya kata-kata Bagas barusan. Padahal baru tadi siang Chelsea merasa bahagia berada di dekat Bagas. Dan sekarang…Bagas meminta Chelsea untuk menjauhinya.
Bagas membalikkan badannya dan berjalan menuju mobil.
“AKU SAYANG KAK BAGAS!” teriak Chelsea.
Langkah Bagas terhenti. Terkejut  dengan kata-kata Chelsea. Bagas hanya diam mematung, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Chelsea.
“Asal kak Bagas tahu, kalo aku sayang sama kakak. Aku juga nggak tahu kenapa bisa secepat ini, padahal kita baru kenal. Tapi ini yang aku rasain, kak. Aku ngerasa seneng ada di deket kakak. Aku ngerasa nyaman ada di deket kakak. Aku yakin kalo kak Bagas itu orang yang baik. Walaupun selama ini kak Bagas selalu bersikap cuek, tapi aku tahu kalo kakak peduli sama aku. Buktinya kemarin kak udah nolongin aku.” Ucap Chelsea.
Bagas hanya menunduk.
Chelsea menghapus air matanya dengan tangannya, “Kak…aku tahu kalo kak Bagas sangat menyayangi kak Cindai. Tapi…tolong kak Bagas  coba buka sedikit hati kakak. Ijinkan aku bisa masuk ke dalamnya. Mungkin aku nggak sebaik kak Cindai. Tapi aku akan coba jadi yang terbaik buat kakak.” Entah mendapat keberanian dari mana, Chelsea bisa mengatakan itu semua. Ini pertama kalinya Chelsea mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu pada seorang cowok. Dan Chelsea merasa lega.
Bagas masih belum percaya dengan ungkapan perasaan Chelsea. Kebimbangan menyelimuti hati Bagas. Dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Chelsea.
Bagas mengangkat wajahnya. Matanya sedikit berkaca-kaca. Tanpa mempedulikan Chelsea, Bagas masuk ke mobilnya. Dan Bagas pun menjalankan mobilnya. Meninggalkan Chelsea sendiri. Air mata Chelsea terus keluar. Chelsea menangis sesenggukan.
“Aku…sayang…kak Bagas…” ucapnya lirih.

{{{

BRAAAKKK!!!
Bagas menutup pintu kamarnya dengan kasar. Lalu Bagas menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya. Dia merasa kesal. Dia dibuat bingung oleh perasaannya sendiri.
Kehadiran Chelsea memang memberi warna di hidup Bagas. Chelsea datang seperti cahaya yang menyinari hidup Bagas. Dan kini Chelsea seolah sedang mencoba mengetuk pintu hati Bagas yang telah lama tertutup. Tapi Bagas takut untuk membukanya. Dia tidak mau ada orang lain selain Cindai di dalamnya. Tapi bagaimana jika Chelsea mempunyai kuci cadangannya? Yang bisa kapan saja membuka membuka sedikit demi sedikit pintu hati Bagas?
Bagas benar-benar gelisah. Diambilnya sebuah figura dari dalam laci mejanya. Di dalamnya ada sebuah foto dirinya bersama Cindai. Melihat senyuman Cindai membuat perasaan Bagas sedikit tenang.



Bagas mendekap foto itu hingga tertidur.

{{{

Bagas berada di sebuah tempat yang sepi, di mana tidak ada satu orang pun. Bagas menatap sekeliling. Bagas tidak mengenali tempat itu. Hanya ada asap tebal di sekelilingnya.
“Kak Bagas…!” panggil seseorang. Suaranya sangat lembut.
Bagas merasa mengenali suara itu. Bagas pun menoleh. Sosok seorang gadis yang sangat dirindukannya saat ini ada di hadapannya. Gadis itu tersenyum. Bagas menatap gadis itu tak percaya. Rasa haru dan bahagia dirasakan Bagas.
“Cindai?” tanya Bagas masih tak percaya.
Bagas berjalan mendekati gadis yang diyakininya adalah Cindai. Kini Bagas dan gadis itu berhadapan sangat dekat. Dan gadis itu memanglah Cindai.
“Apa benar kamu Cindai?”
“Iya, kak. Aku Cindai.” Jawab gadis itu dengan senyum manisnya.
Bagas tersenyum dan langsung meraih Cindai ke dalam pelukannya. Bagas memeluk Cindai dengan erat.
“Aku kangen banget sama kami, Ndai…” ucap Bagas kemudian.
Cindai hanya terdiam. Lalu perlahan mencoba melepaskan pelukan Bagas. Cindai menatap Bagas dalam-dalam.
“Kak, apa aku boleh minta sesuatu sama kak Bagas?” tanya Cindai.
“Apa, Cindai? Katakan saja!”
“Lupain aku, kak!”
Wajah Bagas mendadak berubah, “Apa? Ngelupain kamu? Nggak, Cindai. Maaf, aku nggak bisa.”
“Aku mohon, kak! Lupain aku! Semua yang terjadi sama aku, bukanlah salah kak Bagas. Jadi tolong kakak berhenti nyalahin diri kakak sendiri. Mulai sekarang…kakak harus lanjutin hidup kakak. Pikirin masa depan kak Bagas. Aku cuma ingin kak Bagas bahagia. Karena kalo kak Bagas bahagia, aku pasti ikut bahagia, kak.” Mata Cindai berkaca-kaca, tapi berusaha tetap tersenyum. “Jaga diri kakak baik-baik ya. Aku pergi dulu, kak.” Cindai melepaskan genggaman tangan Bagas.
“Nggak, Cindai. Kebahagiaan aku cuma sama kamu. Jadi aku akan ikut kemana pun kamu pergi.” Kata Bagas.
Cindai menggeleng, “Nggak, kak. Belum waktunya kak Bagas pergi. Kakak harus terus lanjutin hidup kakak. Ada seseorang di sana yang akan bisa bikin kak Bagas bahagia, tapi bukan aku.” Perlahan Cindai berjalan mundur, “Aku pergi ya, kak. Selamat tinggal, kak Bagas.”
Cindai tersenyum dan membalikkan badannya. Cindai berjalan menjauh dari Bagas. Semakin lama semakin jauh.
“CINDAI1 JANGAN PERGI!” teriak Bagas. Bagas berlari mengejar Cindai. Tapi Cindai sama sekali tidak menoleh.
“CINDAI!!!” teriak Bagas lagi.
Bagas terus berlari mengejar Cindai. Saat berhasil mendekati Cindai, Bagas meraih pundak Cindai.
“Cindai!” panggil Bagas lagi.
Seorang yang ditepuk pundaknya oleh Bagas menoleh. Gadis yang awalnya Bagas kira adalah Cindai, ternyata bukanlah Cindai. Gadis itu tersenyum.
“Kak Bagas…” ucap gadis itu.
“Chelsea?” tanya Bagas bingung. Bagas bingung saat melihat Chelsea di hadapannya. “Di mana Cindai?”
Bagas menatap sekeliling. Mencari-cari di mana Cindai. Tapi tidak ada.. Hanya ada Chelsea yang bersamanya saat ini.
“CINDAI!” teriak Bagas sambil terus mencari.
Bagas terus berlari mencari Cindai sambil beberapa kali memanggil namanya. Tapi tetap tidak ada jawaban.
“CINDAI!!!” Bagas terbangun dari tidurnya. Napasnya terengah-engah. Seluruh tubuhnya berkeringat.
“Ternyata Cuma mimpi.” Ucap Bagas pelan.
Bagas mencoba mengingat-ingat mimpinya tadi. ‘Sebenarnya apa arti mimpi gue tadi? Kenapa Cindai meminta gue ngelupain dia? Dan kenapa tiba-tiba ada Chelsea di mimpi gue?’ batin Bagas.

{{{

Keesokan harinya…
Pagi itu jam pelajaran Bahasa Inggris di kelas Bagas kosong. Bagas memilih berdiam diri di depan kelas. Tubuhnya bersandar pada pintu kelas dan menatap ke arah lapangan. Ada satu hal yang menarik perhatiannya saat itu. Chelsea. Ya…saat itu kelas Chelsea pelajaran Olah Raga.
Mata Bagas terus tertuju pada Chelsea yang sedang mendribble bola basket dan beberapa kali mencoba memasukkannya ke dalam ring, tapi gagal. Lucu. Tanpa sadar Bagas tersenyum.
“Chelsea cantik ya?” suara seseorang di belakang Bagas, membuat Bagas terlonjak kaget.
Bagas menoleh, “Difa?”
“Hahaha! Kenapa lo kaget gitu?”
Bagas nggak menjawab, tapi malah menunjukkan ekspresi kesal.
“Jawab dong pertanyaan gue tadi! Chelsea cantik ya?” Difa menggoda Bagas lagi.
“Apaan sih lo?” Bagas berlalu meninggalkan Difa.
Bagas nggak mau kelihatan salting di depan Difa. Makanya dia memutuskan ke taman belakang sekolah. Bagas masih ingin sendiri. Difa yang melihat sikap sahabatnya itu Cuma geleng-geleng kepala, tapi dia tidak mengejar Bagas. Difa tahu kalo Bagas butuh waktu buat sendiri.

{{{

Chelsea dan Angel keluar dari ruang ganti. Setelah olah raga, mereka merasa haus dan memutuskan untuk ke kantin.
“Haus banget gue. Kayaknya kalo minum es teh enak kali ya?” kata Angel saat dalam perjalanan ke kantin.
Chelsea mengangguk, “Sama makan bakso juga ya?”
“Sip!”
Di tengah perjalanan, Chelsea dan Angel berpapasan dengan Bagas. Chelsea dan Bagas sempat bertatapan. Tapi tidak lama. Karena setelah itu, Bagas mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan terus berjalan, berlawanan arah dengan Chelsea.
Chelsea menghentikan langkahnya dan pandangannya terus mengikut arah ke mana Bagas pergi. Mata Chelsea mulai berkaca-kaca. Dian jadi ingat kejadian tadi malam.
“Chelsea!” Angel menyenggol lengan Chelsea.
Chelsea tersentak kaget dan menoleh, “Mmm…kenapa, Ngel?”
“Harusnya gue yang nanya, lo kenapa? Kayaknya ada sesuatu deh antara lo sama kak Bagas?” tanya Angel curiga.
Chelsea mencoba tersenyum, “Aku nggak pa-pa kok, Ngel.”
“Chel, walaupun kita belum lama kenal, tapi lo itu udah gue anggep seperti sahabat gue sendiri. Jadi kalo lo punya masalah, lo cerita aja sama gue!”
Chelsea yang dari menahan air matanya, akhirnya menangis juga. Hal itu malah membuat Angel bingung.
“Loh, Chel…lo kok malah nangis? Gue salah ngomong ya?”
Chelsea menggeleng.
“Ya udah, kita ke taman belakang sekolah aja ya. Lo cerita sama gue!”
Angel membawa Chelsea ke taman belakang sekolah. Chelsea pun menceritakan semuanya pada Angel. Chelsea terus-terusan saja menangis. Angel pun mencoba memeluk dan menenangkannya.
“Chel…udah, lo jangan nangis lagi ya. Kak Bagas itu kan pernah kehilangan seseorang yang dia sayang. Dan yang gue tahu, kak Bagas itu sayang banget sama kak Cindai. Jadi wajar aja kan kalo sampai sekarang kak Bagas masih belum bisa ngelupain kak Cindai. Kak Bagas nggak pernah berani ngebuka hatinya buat cewek lain, buktinya sejak kak Cindai meninggal kak Bagas belum pernah pacaran sama siapapun.”
Chelsea masih menangis sesenggukkan. Angel membelai rambut Chelsea lembut.
“Mungkin sekarang kak Bagas masih bingung, jadi dia butuh waktu buat sendiri dulu. Lagian…kemarin-kemarin kan kak Bagas udah jadi pahlawan buat lo. Dia ngorbanin nyawanya demi lo. So sweet deh, Chel. Itu kan tandanya kalo kak Bagas peduli sama lo.” Lanjut Angel sambil tersenyum jail.
Chelsea melepakan pelukannya, “Tapi kenapa kemarin dia minta aku buat jauhin dia?”
“Kan tadi gue udah bilang, mungkin kak Bagas masih bingung sama perasaannya sendiri. Jadi biarin dia sendiri dulu.”
Chelsea menghela napas lega. “Makasih ya, Ngel. Sekarang gue ngerasa lebih tenang.”
Angel tersenyum, “Ya udah, lo jangan nangis lagi ya.” Angel menghapus air mata Chelsea dengan tangannya.

{{{

Bagas berdiri di pinggir kolam renang rumahnya. Pandangannya kosong. Pikirannya melayang jauh entah ke mana.


“DOORRR!!!” seseorang mengagetkan Bagas dari belakang.
Bagas terlonjak saking kagetnya. Nyaris saja Bagas hampir jatuh ke kolam renang. Sontak Bagas menoleh, “Difa? Kenapa sih lo seneng banget ngagetin gue?” kata Bagas kesal.
Difa tertawa kecil, “Bagas…bagas…untung aja yang naksir lo tuh cuma cewek-cewek. Coba kalo setan-setan ikutan naksir lo, pasti sering kesurupan lo. Tiap hari kerjaan lo cuma ngelamun aja!” Sahut Difa asal.
Bagas duduk di kursi santai dekat kolam renangnya. Difa mengikutinya dan duduk di samping Bagas.
“Ada apaan lo sore-sore ke sini?” tanya Bagas nggak semangat.
“Ya elah, Gas. Biasanya juga gue tiap hari ke sini lo nggak pernah nanya ada apaan? Mau main doang, nggak boleh ya? Ya udah, gue pulang nih…?”
“Bukannya gitu, Dif. Gue kan Cuma nanya.”
“Lagian…ngelamunin apaan sih lo? Chelsea?”
Bagas melotot dan langsung salah tingkah, “Chelsea? Ya nggak mungkin lah…” jawab Bagas sedikit gelagapan.
“Nggak usah bohong! Udah, buruan lo tembak Chelsea! Kasian tuh anak orang, udah sebulan kan lo cuekin dia?”
“Apaan sih lo, Dif?  Gue kan udah pernah bilang kalo gue nggak punya perasaan apa-apa sama Chelsea.” Jawab Bagas berbohong, lalu menatap Difa. “Bukannya lo yang harusnya nembak Chelsea?”
Difa menghela napas dan Cuma geleng-geleng kepala, “Bagas…Bagas…kenapa sih lo pake bohong segala sama gue? Kita tuh sahabatan udah lama, jadi gue tahu di saat lo bohong sama gue dan di saat lo jujur sama gue.”
Bagas mencoba menghindari tatapan Difa dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
“Gas, gue tahu kalo lo itu sayang banget sama Cindai. Dan sampai sekarang lo masih merasa bersalah atas kepergian Cindai kan? Asal lo tahu Gas, semua yang terjadi sama Cindai itu sama sekali bukan salah lo. Itu udah takdir, Gas. Lagian waktu itu lo udah berusaha buat nolongin dia kan? Tapi takdir berkata lain, Gas.”
Bagas hanya menunduk.
“Dan kejadian yang sama kemarin terjadi sama Chelsea. Tapi buktinya lo berhasil nyelamatin Chelsea dari mobil itu kan? Itu juga takdir, Gas.” Difa menepuk pundak Bagas, “Jadi stop lo nyalahin diri lo sendiri! Jangan karena perasaan bersalah lo itu, lo jadi tutup hati lo gini. Gue tahu kalo sebenernya lo sayang sama Chelsea kan?”
“Dif…” ucap Bagas terpotong.
“Lo nggak usah ngerasa nggak enak sama gue. Gue emang suka sama Chelsea, tapi kalo Chelsea sukanya sama lo, gue bisa apa? Nggak mungkin juga kan gue maksain dia buat suka sama gue? Sekarang…gue ikhlas kok kalo Chelsea sama lo. Karena gue yakin kalo Chelsea bisa bahagia sama lo.” Difa mencoba tersenyum sambil menatap Bagas.
Entah kenapa setelah mendengar kata-kata Difa, Bagas semakin yakin dengan perasaannya.
Bersamaan dengan itu, handphone Bagas berbunyi. Ada satu pesan masuk. Bagas menatap layar handphonenya. ‘Chelsea?’ pikir Bagas. Dengan ragu, Bagas membaca pesan itu.

From: Chelsea
Kak Bagas, aq pengen
Ketemu ka2.
Aq tunggu di danau y :)

“Dari siapa?” tanya Difa penasaran.
“Dari…Chelsea.” Jawab Bagas ragu.
Difa tersenyum, “SMS apaan?”
“Dia minta ketemuan.”
“Terus ngapain lo masih di sini? Cepet kejar dia! Atau gue berubah pikiran buat rebut dia nih?” Ancam Difa. Difa geregetan juga sama Bagas.
Bagas nyengir kuda, “Thanks ya, Dif.” Bagas menepuk pundak Difa.



Difa mengangguk dan tersenyum, “Good luck, bro.”
Bagas segera ke kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya. Sementara Difa masih duduk diam. Difa ikut bahagia melihat Bagas-sahabatnya juga bahagia. Meski hatinya sakit, tapi Difa berusaha merelakan Chelsea.

{{{

Kupercayakan seluruh hatiku padamu
Kasihku, satu janjiku…
Kaulah yang terakhir bagiku…

Bagas keluar dari mobilnya. Angin sore yang sejuk menerpa wajahnya. Bagas masih saja kagum menatap keindahan danau. Keindahannya tak berkurang sedikitpun. Masih sama seperti yang dilihatnya terakhir bersama Chelsea.
Bagas tersadar dari rasa kagumnya saat teringat Chelsea. Bagas mencari-cari Chelsea. Dan pandangan Bagas berhenti pada satu pemandangan yang Tuhan ciptakan luar biasa indahnya. Chelsea. Bagas tersenyum saat melihat Chelsea duduk di pinggir danau, yang sepertinya sedang menikmati keindahan danau juga. Sebuah ide muncul di otak Bagas. Bagas kembali ke mobilnya untuk mengambil sesuatu. Sebuah kamera. Bagas kembali lagi mendekati Chelsea.
Tanpa disadari Chelsea, Bagas mengambil gambar Chelsea dengan kameranya.


Dan…klik!
Bagas melihat hasil jepretannya…


Sempurna….
‘Cantik!’ batin Bagas sambil senyum-senyum sendiri.
Bagas duduk di samping Chelsea. Chelsea yang tersadar langsung menoleh. Antara kaget bercampur senang, Chelsea menatap Bagas tak percaya.
“Ini beneran kak Bagas?” tanya Chelsea masih tak percaya.
“Ya iya lah, Chel. Memangnya siapa lagi? Gue nggak punya kembaran kok.” Jawab Bagas sambil tersenyum.
Chelsea tersenyum.
“Ke pinggir danau yuk!” ajak Bagas.
Chelsea mengangguk dan mengikuti Bagas ke pinggir danau. Sejenak mereka terdiam menikmati keindahan danau.
“Makasih ya, kak udah mau dateng.” Chelsea membuka pembicaraan.
“Lo nggak perlu ngucapin makasih, gue juga seneng kok dateng ke tempat ini.”
Chelsea menatap Bagas ragu, “Kak…aku mau minta maaf soal…kata-kata aku waktu itu. Bukan maksud aku buat…” kata Chelsea terpotong.
Tiba-tiba saja Bagas langsung memeluk Chelsea. Erat sekali. Bibir Chelsea pun seolah terkunci. Tak bisa berkata apa-apa. Dan Chelsea membiarkan Bagas memeluknya.
“Gue sayang sama lo, Chel…” ucap Bagas lirih.
Sebuah senyuman terlukis di bibir Chelsea. Chelsea merasa kalau semua ini hanyalah mimpi. Tapi saat menyadari Bagas memeluknya begitu hangat, Chelsea sadar semuanya tampak nyata. Chelsea sangat bahagia. Bagas akhirnya membalas perasaannya.
“Apa, kak? Aku nggak denger.” Tanya Chelsea sambil tersenyum jail.
“Gue sayang sama lo.” Ulang Bagas. Kali ini lebih keras.
“Kurang keras, kak!” kata Chelsea lagi.
Bagas melepaskan pelukannya dan menghadap ke danau.
“BAGAS SAYANG CHELSEA!” teriak Bagas.
Chelsea terharu sampai matanya berkaca-kaca.
“CHELSEA JUGA SAYANG KAK BAGAS!” balas Chelsea berteriak.
Bagas dan Chelsea berpandangan, lalu tertawa.
“Kak, aku nggak mimpi kan?”
Bagas tersenyum dan meraih kedua tangan Chelsea, “Coba lo rasain ini.” Bagas mendekapkan tangan Chelsea di dadanya.
Chelsea dapat merasakan detak jantung Bagas yang begitu cepat. Bagas menatap Chelsea dalam-dalam. Dan Chelsea dapat merasakan cinta yang begitu tulus dari Bagas.
“Ini yang gue rasain setiap kali ada di deket lo. Jantung gue selalu berdetak kencang setiap kali ada di deket lo.” Ucap Bagas.
“Kak…” kata Chelsea terpotong.
“Lo nggak perlu ngomong apa-apa lagi, Chel. Waktu itu lo udah ungkapin semua perasaan lo ke gue kan? Sekarang…giliran gue yang ngomong.”
Chelsea akhirnya nurut. Dia memilih diam dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Bagas.
“Sejak kepergian Cindai, gue udah pernah janji buat nutup hati gue buat siapapun. Gue nggak pernah berani buka hati gue buat cewek lain. Karena gue takut akan ada yang bisa gantiin posisi Cindai di hati gue.” Bagas menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, “Tapi…sejak lo hadir di hidup gue, semuanya berubah, Chel. Awalnya gue kira kalo lo itu cewek nyebelin yang sok akrab sama gue.” Bagas tertawa kecil.
Chelsea manyun.
“Tapi ternyata lo itu hadir seperti matahari yang menyinari hidup gue yang telah lama gelap. Waktu itu gue berusaha mati-matian buat ngejauhin lo. Lama-kelamaan rasanya tersiksa banget. Bayangan lo selalu hadir di pikiran gue. Dan sekarang…lo berhasil masuk ke hati gue.” Lanjut Bagas akhirnya.
Bagas masih menatap Chelsea dalam-dalam. Membuat Chelsea salah tingkah. Akhirnya Chelsea memilih menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang mulai merona.
“Chelsea…lo memang buka yang pertama buat gue. Tapi gue janji kalo lo itu yang terakhir buat gue. Apa…lo mau jadi pacar gue?” tanya Bagas.
“Mmm…gimana ya?” Chelsea terlihat berpikir.
Bagas menatap Chelsea sambil harap-harap cemas.
“Maaf, kak…aku nggak bisa…” jawab Chelsea dengan wajah menyesal.
Jantung Bagas serasa mau copot mendengar jawaban Chelsea.
“Nggak bisa nolak maksudnya.” lanjut Chelsea sambil tersenyum jail.
“Jadi…maksud kamu?” tanya Bagas memastikan.
“Iya, aku mau jadi pacar kakak.” Chelsea tersenyum.
Bagas benar-benar senang mendengarnya. Diraihnya Chelsea ke dalam pelukannya. Chelsea pun membalas pelukan Bagas.
“Makasih, Chel.”
“Sama-sama, kak.”
Chelsea melepaskan pelukannya dan menatap kamera di tangan Bagas.
“Kak Bagas bawa kamera? Coba deh foto danau ini, kak. Pasti hasilnya bagus.” Ujar Chelsea semangat.
“Ngapain juga gue masti foto danau ini? Tadi aja gue baru dapet objek yang lebih bagus kok.”
“Oh ya? Apa, kak?” tanya Chelsea ingin tahu.
“Beneran lo mau liat? Nanti lo cemburu lagi?”
“Cemburu? Emang foto apaan?”
“Cewek. Cantik banget.” Jawab Bagas dengan wajah serius.
Wajah Chelsea mendadak berubah. Cemburu. Ya…itulah yang dirasakan Chelsea.
“Mau liat nggak?” tanya Bagas lagi.
Chelsea menggeleng dan berdiri membelakangi Bagas. Kayaknya kali ini Chelsea beneran ngambek.
‘Kak Bagas nih apaan sih? Baru aja jadian, udah bikin cemburu.’ Batin Chelsea kesal.
Bagas menatap layar kameranya dan memandang hasil jepretannya tadi, “Kayaknya…kalo gue pajang di kamar gue bagus deh.”
Chelsea membalikkan badannya dan menatap Bagas kesal. Chelsea merebut kamera itu dari tangan Bagas. Chelsea penasaran dengan foto cewek itu. Chelsea langsung ternganga saat menatap layar kamera itu.
“Kak, ini kan…?” tanya Chelsea menggantung.
“Cantik kan?” tanya Bagas sambil tersenyum.
Wajah Chelsea langsung merona. Ternyata foto cewek yang dimaksud adalah foto dirinya yang tadi diambil secara diam-diam oleh Bagas.
“Jadi tadi kak Bagas diem-diem foto aku?” tanya Chelsea pura-pura marah untuk menutupi rasa malunya.
“Jadi nggak boleh nih? Ya udah deh, gue cari model lain aja yang mau gue foto.” Kata Bagas bercanda.
Chelsea manyun, “Kak Bagas nyebelin ah.”
“Udah jangan ngambek mulu! Gue Cuma bercanda kok.”
Bagas mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku celananya.
“Mau main ini nggak?” tanya Bagas sambil menunjukkan botol kecil itu.
Wajah Chelsea berubah senang, “Mau, kak! Mau!”
Bagas membuka tutupnya dan mencelupkan kawat kecil ke dalam botol itu. Dengan jail, Bagas sengaja meniupkan gelembung-gelembung sabun ke wajah Chelsea. Chelsea menutup matanya dan sedikit menghindar. Ekspresi wajah Chelsea yang lucu membuat Bagas tertawa.
“KAK BAGAAASSSS!!!” Chelsea siap-siap menyerang Bagas.
Tapi Bagas berhasil menghindar dan berlari menjauh dari Chelsea. Chelsea nggak menyerah dan terus mengejar Bagas untuk membalas perbuatan Bagas tadi. Alhasil, mereka kerja-kejaran layaknya Tom and Jerry.
“Udah ah, Chel! Capek!” kata Bagas yang masih terengah-engah sambil mengatur napasnya.
“Hehehe…ternyata kak Bagas yang biasanya cool di depan semua orang, aslinya jail juga ya?”
“Jailnya cuma buat lo kok.” Jawab Bagas asal.
“Iiiihh…mulai lagi deh.”
“Yeee…gue belum selesai ngomong. Jailnya, sayangnya, cintanya…semuanya buat lo.” Lanjut Bagas sambil nyengir.
“Hahaha…kak Bagas bisa gombal juga ya?”
Bagas hanya menanggapinya dengan senyum.
“Kak, bikin gelembung-gelembung sabun lagi dong, yang banyak!” pinta Chelsea.
Bagas akhirnya nurut. Dia mulai meniupkan gelembung-gelembung sabun ke udara. Sementara Chelsea bermain-main dengan gelembung-gelembung sabun itu sambil melompat-lompat senang. Bagas hanya tersenyum melihat tingkah Chelsea yang seperti anak kecil. Tapi tetap menarik di mata Bagas.
'Cantik.’ batin Bagas sambil senyum-senyum menatap Chelsea.
Chelsea sangat bahagia karena akhirnya Bagas membalas perasaannya. Bagas pun merasakan hal yang sama. Setelah sekian lama dia menutup pintu hatinya, Chelsea berhasil membukanya. Chelsea mampu membuat hidup Bagas lebih indah. Bagas mempercayakan seluruh hatinya untuk Chelsea. Dan satu janji Bagas bahwa Chelsea-lah yang terakhir untuknya.

Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku


-THE END-



Baca cerpen ChelGas lainnya -> Ms. Perfect & Mr. Jail (Cerpen Chelgas)

13 komentar:

  1. Wihh bagus banget ,,, tema blogg nya .. mau dong .. gimana carany?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya backgroud-nya?
      Tinggal masuk ke "template" aja, klik "sesuaikan", pilih "latar belakang", klik "gambar latar", terus pilih "unggah gambar".
      Terakhir, tinggal pilih gambar yang kamu mau (yg udah kamu save sebelumnya)

      Hapus
  2. Ini keren banget;)) sumpah aku sampe nangis yg bagian Chelsea ngungkapin perasaannya ke Bagas, yg akhir Bagas so sweet wkwk sampe pipi Chelsea merah merona.-. saking malunya hoho. Lain kali bikin cerpen ChelGas lagi dong Kak:)) hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah suka sama cerpenku *peluk*
      Jadi terharu bisa bikin pembacanya sampai nangis, hehehe...
      Iya, untuk cerpen ChelGas yg ke-2 masih dalam proses. Ditunggu aja ya ;)
      Makasih jg udah berkunjung ^^

      Hapus
    2. Samasama Kak{} iya Kak, menurutku itu ngefeel bgt Kak hehe... oke Kak, aku tunggu, bikin yg lebih nyesek tapi happy ending klo bisa Kak:3 wkwk

      Hapus
    3. Udah jadi cerpen ChelGas-nya.
      Kalo mau baca di sini:
      http://ayu-dreamworld.blogspot.com/2015/01/ms-perfect-mr-jail-cerpen-chelgas.html

      Tp kayaknya yg ini ga nyesek deh, hehehe

      Hapus
  3. Hy :) salam kenal :D aku mau minta izin..boleh ngk aku repost cerpen "lebih indah" ke blog aku? tapi nama pemainnya aku ganti.... thanks before ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga :)
      Silahkan, tapi disertakan link asli cerpennya ya ^^

      Hapus
    2. Sama2 :)
      Makasih jg udah berkunjung ^^

      Hapus
  4. Hi kakak author, sebenernya aku udah pernah baca cerpen ini sekitar tahun 2014an daaaan aku baca lagi sekarang, hampir mau 3 tahun yang lalu ya? Daannn gimana ya? Seriously aku masih speechless baca cerpen kakak xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai juga :)
      Waah... makasih ya udah baca sampe 2x, jadi terharu, hehehe

      Kalo berkenan baca cerpenku yg lainnya ya :)

      http://ayu-dreamworld.blogspot.co.id/2015/01/ms-perfect-mr-jail-cerpen-chelgas.html

      http://ayu-dreamworld.blogspot.co.id/2016/02/ms-perfect-mr-jail-2-sequel-cerpen_7.html

      Thanks :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...